Senin, 09 Desember 2019

Review Film

1. Review Film: Frozen 2 (2019)

 

 

 

 

Jakarta, CNN Indonesia -- Enam tahun setelah seri pertama, kisah petualangan kakak beradik Elsa dan Anna berlanjut lewat film Frozen 2.

Masih diarahkan sutradara Jennifer Lee dan Chris Buck, kisah ini dibuat dengan latar musim gugur, tiga tahun setelah kejadian dalam seri yang pertama kali dirilis pada 2013 silam.

Perkembangan masing-masing karakter cukup kentara seiring pertumbuhan diri mereka. Dengan cerita yang lebih kompleks, Frozen 2 berhasil dikemas menjadi sebuah sekuel yang memenuhi ekspektasi dan menghibur.


Sepeninggal kepergian ayah dan ibunya, Elsa (disuarakan Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) kini hidup ditemani si boneka salju Olaf (Josh Gad) serta Kristoff (Jonathan Groff) dan si rusa kutub Sven di Istana Arendelle.

Kisah dibuka dengan ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya kala diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang.


Review Film: Frozen 2Kisah dibuka dengan ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya kala diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang. (Dok. Disney)

Hingga suatu kali, Elsa mendengar suara yang ia duga berkaitan dengan misteri keberadaan hutan ajaib. Dia terus dihantui sampai kemudian berusaha menelusuri sumber asal suara tersebut.

Namun, upaya Elsa justru menjadi petaka. Ia malah membangkitkan roh-roh dari hutan ajaib yang marah sampai kehidupan di Arendelle pun terancam kembali karenanya.

Merasa menjadi penyebab masalah, Elsa memutuskan mencari jalan menuju hutan ajaib demi menyelamatkan Arendelle seorang diri.

Namun, aksi itu dicegah oleh sang adik, Anna yang tak mau lagi kehilangan Elsa. Mereka pun akhirnya pergi bersama, ditemani Olaf, Kristoff, dan Sven.

Dalam perjalanan tersebut, Elsa tak hanya menelusuri akar permasalahan yang terjadi antara Arendelle dan hutan ajaib. Namun ia juga menemukan penyebab yang sesungguhnya atas kematian orangtua mereka sampai sumber kekuatan yang dimiliki.

Lika-liku perjalanan dalam Frozen 2 bukan hanya menguak misteri yang tak terjawab di seri pertamanya, tapi juga menjadi sebuah gambaran proses pendewasaan dan pencarian jati diri dari masing-masing karakter.


Review Film: Frozen 2Elsa dan Anna, bersama  Olaf, Kristoff, dan Sven berpetualang bersama mencari jawaban soal hutan ajaib. (Dok. Disney)

Olaf contohnya. Ia dengan polos merasa gelisah saat berpikir akan tumbuh dewasa. Ia menganggap menjadi dewasa membuat hal-hal magis tak lagi masuk akal.

Elsa menjadi pribadi yang lebih percaya diri atas segala tindakan yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu, dia berusaha memahami situasi dan mengendalikan diri terlebih dahulu dalam menghadapi masalah.

Namun yang paling utama, Elsa pada akhirnya bisa menerima perbedaan dalam diri dengan kekuatan yang dimiliki.

Sementara Anna, ia terlihat cukup berlebihan di awal karena ketakutan akan sikap sang kakak yang merasa bisa mengatasi sendiri segala sesuatu.

Namun, kali ini dia juga digambarkan mampu mempertimbangkan dampak saat menentukan sikap dan keputusan.

Pribadi karakter-karakter utama itu pun terbentuk atas peristiwa-peristiwa yang telah mereka lalui. Penonton, khususnya penonton Frozen pertama, seolah juga ikut diajak tumbuh berkembang bersama karakter dalam film tersebut.



Bila diperhatikan seksama, pola alur cerita yang ditawarkan Frozen 2 tak jauh berbeda daripendahulunya. Hal itu cukup terlihat pada penempatan adegan musikal hingga proses Elsa berganti gaun.

Namun yang perlu digarisbawahi, film ini disuguhkan dalam kemasan yang lebih segar.

Tingkah dan humor Olaf sukses menjadi daya tarik utama, bahkan bisa dikatakan lebih menghibur dari yang pertama.

Soal animasi dan sinematografi sudah tak diragukan. Gambar-gambar cantik memanjakan mata sepanjang film. Gaun Elsa di sekuel ini pun menjadi sorotan tersendiri.

Belum lagi, lagu-lagu tema yang tak kalah membekas dan memiliki 'kekuatan' seperti seri pertamanya. Ragam genre musik pun menjadi warna baru yang ditawarkan sekuel ini.

Secara umum, Frozen 2 menjadi sebuah sekuel yang membuat hati riang dan mampu membuat penonton menikmati setiap hal magis yang tersuguh.

Frozen 2 menjadi hiburan yang sayang untuk dilewatkan bersama keluarga. Meski cerita terasa lebih ke proses pendewasaan diri, tapi tampaknya sekuel ini masih bisa diterima dan dinikmati oleh penonton anak-anak.


Review Film: Terminator Dark Fate

review-film-terminator-dark-fate-cerita-standar-dengan-action-apik
Hanya ada dua yang dikui dari semua film Terminator yang pernah dirilis. Sisanya “dianggap tak pernah ada”. Ini lebih perih sih dari ditinggal pas sedang sayang-sayangnya. Namun, apa pun itu, Terminator: Dark Fate akan segera tayang di bioskop Indonesia.
Nama besar James Cameron dihadirkan kembali untuk film ini. Salah satunya adalah sebagai penulis naskah. Pemeran Sarah Connor yang dimainkan oleh Linda Hamilton dan tentu saja yang ikonik, sang Terminator yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger juga kembali hadir. Berikut ulasan atau review film Terminator: Dark Fate.
Langit kota Amerika sedang gelap. Grace ( Mackenzie Davis) dan Terminator (Gabriel Luna) datang ke bumi di masa ini. Tujuan mereka tidak lagi menghabisi seluruh umat manusia. Mereka hanya mencari satu tujuan, yaitu menemukan Dani Ramos (Natalia Reyes).
Ada alasan khusus Grace dan Terminator ini mencari Dani. Semuanya dituntun berdasarkan hasrat mereka masing-masing. Grace mendapatkan arahan berupa sandi-sandi khusus yang ia dapatkan ketika mencari Dani. Sementara itu Termiantor punya misi lain. Misi yang disebut mengancam keinginan mereka di masa depan. Keduanya datang dari masa depan.
Tak hanya Grace dan Terminator yang datang dari masa depan. Namun, ada yang datang dari “masa lalu”. juga. Namanya adalah Sarah Connor (Linda Hamilton). Berkat petunjuk yang ia dapat semuanya berkumpul menjadi satu dan kemudian pada satu sosok yang sangat familiar. Siapa dia?
Siapa yang berhasil mendapatkan Dani? Grace atau Terminator? Semua jawabannya akan kamu temukan di film Terminator: Dark Fate yang akan segera tayang di bioskop.

Action Apik nan Berisik

review-film-terminator-dark-fate-cerita-standar-dengan-action-apik
Sumber: SKYDANCE PRODUCTIONS AND PARAMOUNT PICTURES
Setidaknya ada lima film dengan nama Terminator, namun yang dianggap ada hanya dua sebagai bagian dari cerita Dark Fate. Lucunya, dan entah kenapa hanya dianggap dua, padahal nama-nama karakter pada dua film yang dianggap ‘ada’ tetap dipasang di film-film Terminator yang dianggap tidak ada.
Beberapa kritikus sudah menyebutkan, dari semuanya film ini punya timeline yang sangat membingungkan. Berharap film ini sudah berhenti dan tidak pernah ada. Ah, terlepas dari semua itu, okelah Terminator: Dark Fate terhubung dengan The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Namun, Dark Fate punya poin cerita yang nyaris masih sama dengan dua film yang dianggap ‘ada’ itu.
Entahlah, film ini jadi hanya sambungan dari dua film yang tadi itu saja. Sudah, selesai saja seperti itu. Namun, yang menarik dari Terminator: Dark Fate adalah action ynag ditampilkan. Bukan sekadar baku hantam biasa, atau karena pengaruh Tim Miller di kursi sutradara.
Film ini melengkapi bagaimana action sebaiknya disuguhkan. Sungguh berisik. Benturan metal yang beradu dengan metal lainnya atau saat metal tersebut menggaruk aspal akan membuat telinga merasakan sensasi yang berbeda dalam menikmati film action.
Film ini lebih menempatkan action yang kuat sebagai senjata utamanya.  Sementara itu, untuk poin cerita yang terjadi di dua film sebelumnya dihadirkan dengan gaya masa kini. Poin tentang kedatangan sosok mesin dari masa depan dan untuk mencari seseorang yang bisa merusak masa depan itu sendiri. Bernar-benar tidak ada yang segar.
Setiap potongan ceritanya memang ditata dengan rapi. Sehingga semuanya bisa menikmati sajian Dark Fate. Itu pun jika mereka sudah menonton The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Jika belum, ya silahkan ditonton dulu.

Gabriel Luna

review-film-terminator-dark-fate-cerita-standar-dengan-action-apik
Sumber: SKYDANCE PRODUCTIONS AND PARAMOUNT PICTURES
Ketika Linda Hamilton dan Arnold Schwarzenegger tampil sebagai pengait roamansa masa lalu, dan Mackenzie Davis tampil biasa-biasa saja, Gabriel Luna justru mencuri perhatian. Gabriel Luna berhasil memainkan bagaimana seorang Termiantor yang dingin dan hadir tanpa basa-basi yang terlalu banyak.
Nyuwun sewu sebentar dan kemudian ia siap menghabisi siapa saja yang menghalangi misinya yaitu menemukan Dani. Satu per satu disikat dengan gayanya. Namun, yang menarik di sini adalah, evolusi Terminator yang diperankan Gabriel Luna. Sang aktor berhasil memainkan peran bahwa sesosok mesin ternyata punya emosi yang berlipat ganda.
Gabriel Luna memang pilihan tepat untuk karakter ini. Perannya sebagai Terminator berhasil membuat karakter lainnya pontang-panting menyelematkan Dani yang terus diburu. Satu lagi, gaya karakter Terminator pun disesuaikan dengan film-film action yang kekinian. Selain action yang berisik, film ini mampu menampilkan beberapa tampilan action yang kasar dan cenderung brutal.
Rating film ini saja sudah R. Jadi pilih-pilihlah siapa yang diajak untuk menonton film Terminator: Dark Fate. Bagaimana dengan pemeran lainnya?
Linda Hamilton dan Arnold Schwarzenegger seperti membawa romansa masa lalu saja. Penonton memang akan digiring pada poin-poin penting dari dua film Termiantor sebelumnya di Dark Fate. Setidaknya, ini memberikan informasi bagi penonton yang masih awal, kenapa film Terminator: Dark Fate harus ada.
Baca Juga: Pemeran Ikonik dari Film Pertama Terminator hingga Dark Fate

Film Terminator Berikutnya?

review-film-terminator-dark-fate-cerita-standar-dengan-action-apik
Sumber: SKYDANCE PRODUCTIONS AND PARAMOUNT PICTURES
Beberapa kritikus sudah menyampaikan beberapa kalimat untuk Terminator Dark Fate. Beberapa diantaranya, Terminator: Dark Fate sudah cukup. Semoga tidak ada film Terminator lainnya. Bagi kamu yang sudah mengikuti semua film Terminator, baik yang dianggap ‘ada’ atau “tidak ada” sekalipun mungkin berharap seperti itu.
BookMyShow pun berharap seperti itu. Tidak ada lagi Terminator berikutnya. Dari pada ada yang dianggpa ada dan tidak ada. Namun, satu kejutan di akhir film memberikan isyarat bahwa kemungkinan film Terminator berikutnya mungkin saja masih ada.
Film ini seperti penegasan perpindahan poin karakter utama yang dimainkan oleh Linda Hamilton dari masa lalu ke Natalia Reyes. Dari dulu ke masa sekarang. Sebuah teka-teki yang mungkin hanya akan terjawab oleh orang-orang yang terlibat di film ini. Hingga pada suatu saat nanti, lebih bisa meminimalisir perbedaan film yang ‘ada atau ‘tidak ada’.  Semoga Termiantor tetap jadi hiburan yang menyenangkan.


Review Jumanji: The Next Level

 



Saat sekuel dari video game yang kita suka rilis, kita excited mengharapkannya punya konsep yang familiar, punya karakter yang sudah kita kenal, namun dengan level-level yang lebih luas dan lebih menantang. Jumanji: The Next Level persis seperti demikian. Film ini hadir dengan konsep dan rule yang kurang lebih sama dengan film sebelumnya, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017). Karakter-karakter yang sudah sukses menghibur kita, baik karakter ‘asli’ maupun karakter avatar (in-game) mereka, semua hadir kembali. Dengan petualangan, cerita, dan bahkan pemeranan yang dinaikkan levelnya. It is more… wild!
Geng Spencer kini hidup di kota yang berbeda-beda. Persahabatan mereka mungkin masih seerat dahulu – bersama-sama menempuh petualangan hidup-mati dalam dunia video game akan cenderung membuatmu akrab dengan temanmu – namun selayaknya anak remaja, LDR mau tidak mau membuat Spencer insecure. Ia canggung bertemu dengan Martha. Jadi ketika liburan natal ini geng mereka sepakat pulkam dan temu-kangen di kafe bekas kepunyaan kakek Spencer, pemuda ini semakin galau. Dia merasa perlu untuk mengumpulkan kepercayaan diri dengan… menjadi Dr. Bravestone lagi. Spencer nekat masuk ke dalam video game Jumanji yang sudah rusak itu seorang diri. Martha, Bethany, dan Fridge yang mencemaskan Spencer mencoba menyusul. Membantu Spencer menyelesaikan game berbahaya yang sudah pernah mereka tuntaskan. Namun kerusakan Jumanji membawa kekacauan. Mereka masuk ke dunia Jumanji secara random; as in Kakek Spencer yang grumpy, Eddie, dan mantan sahabatnya yang ngeselin, Milo, terseret ikut bermain alih-alih Bethany yang tertinggal di rumah. Dan dunia game di dalam Jumanji yang harus mereka ‘kalahkan’ kali ini; totally dunia yang berbeda. Dunia yang jauh lebih luas dan lebih berbahaya ketimbang sekadar hutan belantara.

“At least, that time I was still black” Jangan ngeluh dong, kamu Jack BLACK sekarang
Yang paling lucu dan menarik dari konsep Jumanji modern adalah pemeranannya. Di dalam dunia game, mereka punya tubuh yang berbeda, tapi sangat sesuai dan dengan tepat mencerminkan keunggulan dan kelemahan pribadi masing-masing. Para aktor yang memerankan tubuh dalam-game tokoh film ini – disebut avatar – mendapat tantangan untuk bermain di luar kebiasaan, misalnya Jack Black yang memerankan seorang gadis stereotype dumb-blonde yang terjebak dalam tubuh pria urakan tambun yang jago baca peta. Komedi sebagian besar memang datang dari sini. Dan pada Jumanji: The Next Level soal avatar ini semakin kocak lagi, karena sangat random. The Rock Dwayne Johnson kocak parah ketika dia harus memerankan kakek-kakek sakit pinggang yang mendadak punya tubuh begitu kuat dan segar bugar. Dia memainkan Danny DeVito yang jadi kakek cranky yang terjebak di tubuh pria berotot. Sejak hari-hari emasnya di ring gulat, sisi komedi terbaik The Rock selalu adalah bermimik pongah, dengan permainan suara saat talk-trash ke orang-orang. Dalam Jumanji baru ini, Rock kembali dapat kesempatan untuk menggali sisi komedinya tersebut. Jack Black kebagian peran yang annoying, tapi penguasaan komedinya membuat segala keluh kesah yang ia lontarkan jadi pancingan dan punchline yang kuat. Karen Gillan tidak banyak mendapat perubahan – remaja yang masuk ke tokoh avatarnya masih tetap remaja yang sama dengan film pertama. Namun bukan berarti itu karena Gillan tidak punya range akting sebaik lawan mainnya. Gillan diberi satu adegan menjadi ‘tokoh lain’, dan dia memerankan peran komedi itu dengan flawless.
Aku masih ingat menuliskan “Sebagian besar pemeran dalam film ini diberikan kesempatan untuk bermain-main dengan peran yang sangat unik, kecuali Kevin Hart.”  pada ulasan film pertama, sebab memang yang paling boring adalah Kevin Hart karena dia practically memainkan dirinya sendiri, leluconnya selalu sama di mana pun ia berada; selalu mengejek fisik dirinya sendiri. This is not the case pada film kedua. Hart menjadi Danny Glover, dia seperti memparodikan gaya bicara tokoh Glover yang begitu lamban. Ini fresh untuk ukuran komedi Hart. Tek-tokan dia dengan The Rock jadi pemancing gelak utama. Tokoh Milo yang bersemayam di avatar Hart punya hubungan persahabatan yang menarik dengan Eddie yang di dalam Bravestone The Rock. Mereka dulu partner dan sekarang Eddie bahkan tidak sudi ngobrol dengan Milo. Bukan hanya komedi, drama berhati pun hadir dari interaksi mereka. Surprise performance buatku datang dari Awkwafina. Aku bahkan gak tahu sebelumnya bahwa dia bermain di film ini – aku gak lihat trailer dan materi promosi. Bikin terenyuh di The Farewell (2019), Awkwafina kembali menunjukkan taring di zona nyamannya, yakni komedi. Dia juga dapat dua lapis akting, dan perannya yang paling kocak adalah ketika avatarnya dimasuki oleh… ah, kupikir ini bakal jadi spoiler jadi baiknya kalimat itu tidak kulanjutkan. Nick Jonas juga kembali kebagian peran, and he’s the weakest link, yang paling bosenin di antara semua kerusuhan positif tadi.
Petualangan dalam dunia Jumanji mengajarkan pada tokoh-tokoh untuk melihat kelemahan dan kekuatan rekan tim mereka. Jika kita punya masalah dengan sahabat, habiskanlah waktu lebih banyak bersama mereka. Utarakan maksud, utarakan arah. Cari tahu kembali apa yang membuat kita saling dekat pada awalnya. 
Sebenarnya bukan cuma Kevin Hart, ada beberapa perbaikan lain yang dilakukan oleh film ini. Aku kutip lagi kekurangan film pertama terkait perspekif ‘cutscene video game’ yang kutulis di review: “Tokoh utama kita juga melihat cutscene ini. Namun, terdapat juga beberapa adegan cutscene yang memperlihatkan tokoh penjahat sedang mempersiapkan pasukan, dan tokoh utama kita sama sekali enggak tahu tentangnya.” Dalam film kedua, tidak ada lagi cutscene seperti begitu. Perspektif dibuat setia, dari tokoh-tokoh yang sedang menghidupi video game, kita tidak lagi melihat adegan yang tidak dilihat oleh para tokohnya. Kemudian berkaitan dengan avatar dan pesan film; aku di review film pertama menuliskan: “Maka semestinya film membuat mereka tidak lagi menggunakan nama avatar saat film mencapai akhir. Seharusnya mereka dibuat berhasil atas nama diri mereka sendiri.” Di film kedua ini, mereka semua pakai nama asli tokohnya. Tokoh yang diperankan The Rock hanya beberapa kali di-refer sebagai Bravestone, dan nama avatar Awkwafina disebutkan sebagai device komedi. Jadi, film kedua ini benar-benar berusaha untuk menjadi lebih baik daripada film pertama. Setidaknya kekurangan pada film pertama yang aku tulis tidak lagi ditemukan pada sekuel ini.

Hayo kalian baca reviewku ya?
Untuk urusan visual, film ini tampak lebih mahal. Duit keuntungan box office mereka yang luar biasa tahun lalu menunjukkan efeknya di departemen ini. CGI dan efek komputernya terlihat lebih luwes dan meyakinkan. Adegan-adegan aksi juga lebih menegangkan. Tokoh-tokoh kita banyak dikejar-kejar, dengan ‘panggung’ yang bervariasi. Mulai dari gurun pasir hingga serangkaian jembatan gantung. Konsep nyawa video game – mereka masing-masing punya tiga nyawa yang berarti cuma punya tiga kali kesempatan untuk ‘mengacau’ – dibuat lebih berbobot daripada sekadar stake yang menambah ketegangan cerita. Ada kalimat yang aku suka sekali di film ini yakni nasehat kakek kepada Spencer “Don’t lose everything when you fail. You still got a life.” Benar-benar merefleksikan keadaan mereka, mengingatkan untuk tidak down ketika gagal karena kesempatan masih ada. Apalagi jika masih muda.
Actually, bukan masalah masih muda atau sudah tua. Kakek Spencer, Eddie, pada awalnya begitu cranky karena dia merasa tua, waktunya sudah habis, dan tidak ada lagi kesempatan untuk berubah. But there’s still a life. Menjadi tua berarti masih ada waktu. Untuk bertualang. Untuk stage yang berikutnya. Dia masih punya kesempatan memperbaiki hidup yang sama besar dengan kesempatan cucunya.
Segala excitement film ini terasa mengempis pada babak terakhir, saat film memutuskan untuk mengembalikan mereka ke kondisi semula – ke kondisi film pertama. Ini adalah keputusan terburuk yang diambil oleh sutradara Jake Kasdan sepanjang durasi film. Kita melihat begitu banyak hal segar, dan kemudian dia seolah membuat kita menonton kembali film pertama. Karen Gillan kembali menari sambil berkelahi. The Rock kembali memerankan tokoh laga serba bisa yang baik hati alias boring. Also, pertarungan bossnya benar-benar lemah. Film mengembalikan mereka seperti pada film pertama seolah film tidak mampu mencari jalan keluar yang baru. Para tokoh seharusnya belajar meng-embrace avatar mereka, seperti yang sudah berhasil mereka lakukan pada film sebelumnya. I mean, kalo kita main video game, kita toh harus mampu mengendalikan banyak tokoh – enggak hanya melulu memainkan satu tokoh yang sama.
Empat avatar ini sejatinya masih sama, yang berbeda hanya ‘jiwa’ yang menghidupi mereka. Aksi dan tantangan sebelum babak terakhir menarik karena kita melihat pendekatan berbeda yang diambil oleh ‘jiwa’ yang memasuki avatar tersebut. Lebih menarik melihat ini, bahkan ketimbang melihat trait baru yang ditambahkan oleh film yang malah membuat tokoh-tokoh dan rintangan seperti terprogram. Malahan ada satu yang gak benar-benar ter-establish, yakni kemampuan berbicara dengan hewan. Yang sepertinya hanya bekerja pada hewan tertentu karena mereka tetap saja dikejar-kejar oleh burung unta, kera mandril, dan kuda nil. Kenapa tidak bernegoisasi saja dengan hewan-hewan buas tersebut.
Selain arc tokoh Danny DeVito, arc tokoh-tokoh yang lain terasa sama saja dengan arc mereka pada film pertama. Namun ada satu tokoh yang arc-nya benar-benar mencengangkan, dan film mengabaikan begitu saja konsekuensi dunia nyata dari pilihan yang diambil oleh tokoh tersebut.
Sebagai sekuel, film ini sukses terasa lebih besar dan lebih heboh daripada film pertamanya. Dan memang beginilah seharusnya sebuah level adventure yang baru. Tokoh-tokoh yang familiar, tapi dengan rintangan yang baru, dan penambahan yang memang berarti. Film pun berusaha menjadi lebih baik, dia memperbaiki kesalahan terdahulu. Memperkuat keunggulan dan keunikan yang sudah dimantapkan. Namun pilihan di akhir film benar-benar fatal. Para tokoh dan arc mereka terasa sama lagi dengan film yang lalu. Sehingga babak akhir jadi jatuh membosankan. Keasikan nonton ini bakal tergantung masing-masing; jika kalian lebih suka film yang babak akhirnya strong, film akan sedikit mengecewakan namun bakal segera terpulihkan karena di akhir banget ada teaser yang menggugah nostalgia. Jika kalian enggak begitu mempermasalahkan, film ini akan jadi hiburan dari awal sampai selesai.



Review Jumanji: The Next Level

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Review Jumanji: The Next Level, Berawal dari Kegelisahan Berujung Petualangan Seru", https://www.kompas.com/hype/read/2019/12/05/114555666/review-jumanji-the-next-level-berawal-dari-kegelisahan-berujung-petualangan?page=all.
Penulis : Andika Aditia
Editor : Novianti Setuningsih
Review Jumanji: The Next Level

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Review Jumanji: The Next Level, Berawal dari Kegelisahan Berujung Petualangan Seru", https://www.kompas.com/hype/read/2019/12/05/114555666/review-jumanji-the-next-level-berawal-dari-kegelisahan-berujung-petualangan?page=all.
Penulis : Andika Aditia
Editor : Novianti Setuningsih
Review Jumanji: The Next Level

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Review Jumanji: The Next Level, Berawal dari Kegelisahan Berujung Petualangan Seru", https://www.kompas.com/hype/read/2019/12/05/114555666/review-jumanji-the-next-level-berawal-dari-kegelisahan-berujung-petualangan?page=all.
Penulis : Andika Aditia
Editor : Novianti Setuningsih